-= R E B O R N =-
(untuk Cinta yang hilang entah kemana, mudah-mudahan "kamu" baik-baik saja)
----------
[SPESIAL]
Sajak ini khusus kubuat untuk mu,
dengan perhitungan dan takaran kata yang pas.
Agar tak masam di lidah saat kau mengejanya.
***
[AKHIR]
Aku cinta kamu, dan diamdiam cinta itu berbuah air mata,
ranum kau petik di hangat pelukan dan sebuah ucapan perpisahan.
***
[FANA]
Kita fana dalam arloji cuaca,
Di tiktoknya melingkar rindu yang pudar.
***
[MASIH]
masih kutemui sisa perjamuan terakhir di parasmu,
yang berteduh di temaram alis matamu.
***
[LOST]
kita tersesat di hutan kata,
di rimba air mata.
***
[HUJAN]
Mendung ini tak kuasa menampung air mata cuaca,
dalam guratan cakrawala,
yang bernama luka.
***
[KUTERKA CUACA]
curah hujan gelisah,
banjir menghanyutkan banyak kenangan dalam arus yang resah;
Dari hulu,
ke hilir.
Dari awal,
menuju akhir.
***
[HILANG]
Kenangmu resah di ujung percakapan senja,
Pada buihbuih dan gelombang berhamburan rindu yang tak sempat kukemasi.
Sebelum langit semakin menebus sunyi,
Kurekatkan penanggalan usang di ingatan,
Aku hilang dalam aksara yang kau eja.
***
[GERIMIS]
Ti,
Kenapa tibatiba kau bertanya tentang gerimis
yang sempat merambat pelan di genting keramik
sebelum jatuh membentur tanah.
Ti,
Kau lupa, bahwa sebelum gerimis jatuh,
mendung kelabu selalu terbentang di garis matamu, bukan?
***
[INGATKAN]
Sebelum deru kata ini selesai ku pautkan,
Sebelum resahnya hilang di ingatan,
Sebelum senja berangkat pulang,
Mau kah kau ingatkanku,
Bahwa terik matahari masih sama hangatnya dengan yang lalu.
***
[DIANTARA]
kita lalu berpisah,
diantara warna bunga,
diantara banyak aksara.
Kita lalu berpisah,
diantara goresan senja
diantara rindu yang merekah.
***
[STASIUN]
Kau kunanti di sudut peron tujuh,
Katamu semalam lewat sebuah pesan singkat.
Aku bergegas menembus gaduh suara gerbong,
Berharap kau berada diujung pintu melambai rindu.
Siasia,
Aku tak menemukanmu sore itu.
***
[TITIP RINDU]
Aku pergi. Titip rindu. Titip sayang. Titip cinta. Simpan di hatimu. Jaga dan peliharalah. Sebelum langkah kaki ini mejauh. Maukah kau kukecup sekali lagi. Sebagai doa jika saja nanti perjalananku curam dan berliku.
***
[HALO KESUNYIAN]
Selamat siang kesunyian. Lama tak jumpa, kau semakin gemuk saja. Ingatingat tentang penyakit jantungmu. Jangan sampai kau kena serangan jantung. Aku tak ingin ada suara bising sirene dari ambulan seperti tempo hari. Aku ingin kau baikbaik saja. Sebab aku butuh kau saat ini. Aku ingin kembali bertutur manja denganmu lewat percakapan yang cukup panjang, tentu saja percakapannya tentang sebuah keresahan.
***
[SKETSA]
Malam datang, mengarak sepi,
di sudut jalan, redup lampu hijrah ke trotoar,
dekat sebuah kubangan,
yang sore tadi terlindas sebuah sedan mewah berpenumpang wanita setengah baya.
Pejalan kaki lambat menembus sunyi,
berpayung menepis gerimis yang masih jatuh
dalam resah malam yang beringsut padam.
Ada sktesa wajahmu buram diterpa angin
yang melintas pelan di sebuah simpang jalan,
selatan Jakarta.
***
[RINDU]
Masih kusimpan erat sepenggal rindu untukmu,
dalam lisan yang tak pernah lagi kuucapkan,
dalam sebaris kata yang tak selesai kutorehkan,
dalam selimut dan semerbak bunga mimpi yang kian menakutkan.
***
[SAMAR]
Kita sudah sampai,
dalam singgasana keraguan,
yang batasnya samar,
antara cinta dan dusta.
***
[ESOK atau LUSA]
Arakarakan senja padam diujung tatapan,
Bergulir pelan, hening, hilang.
Katamu esok adalah kemarin,
dan lusa adalah hari ini,
yang berulang sama,
tanpa jeda untuk sekedar tanda koma.
***
[KAPAN?]
Ti, kapan pulang?
Aku rindu perdebatan itu,
riuh tawamu merdu ditelingaku.
Ti, kapan pulang?
Telah kupersiapkan perapian,
dalam tungku percakapan.
[KENANGAN]
Kali ini tanpamu. Di sudut tanya diamdiam kumulai percakapan;
pada angin, juga sepi.
Sambil kusaksikan senja pelanpelan terbenam.
***
[(JIKA) NANTI]
begini, jika nanti aku (terlambat) pulang,
jangan kau tanya dari mana,
tapi tolong tanya; "kenapa pulang?"
sebab rindu yang mengantar,
pada sebuah rumah bernama "KAMU".
***
[HANYA SESAAT]
Seperti geremis,
katakata gugur perlahan,
membentur sunyi,
terserap sepi.
***
[REKA ULANG]
di senyummu kureka situasi;
ruangan sunyi beraroma dupa,
meja rias berdebu,
lampu tempel,
sofa cokelat tua,
vas bunga.
Kita, dalam tanda tanya.
***
[REKA ULANG II]
Aku rebah di parasmu; dingin air matamu.
di selaksa megamega telah kureka ulang air matamu,
dalam setiap penanggalan yang tutup usia,
dalam detak jarum jam yang terhenti di angka tiga,
dalam resah dan sebaris tanda tanya.
***
[RAGU]
Mungkin satu kali. Atau beberapa kali. Aku lupa. Jelas, jika lupa aku selalu susah mengingat. Kau jangan tertawa. Iya, mungkin beberapa kali aku jatuh cinta. Dan Ti, mau kah kau kembali meyakinkanku bahwa hanya padamu sajalah aku benarbenar jatuh cinta.
***
[SABUK] - (inspired by someone"s blog)
Kamu ingat tentang ikat pinggang yang kau berikan padaku dulu?
Masih lekat melingkar di pinggangku hingga saat ini.
Ada beberapa bagiannya yang terkelupas, bahkan mulai terlihat usang.
Aku tak mau menggantinya.
Biarlah ia melingkar disana; tepat antara jantung dan kelaminku.
Biarlah ia tetap setia menjaga keduanya.
***
[COBA PAHAMI]
Ti, bisakah kau mengeja lisanku?
Aku hanya ingin kau pahami,
Bahwa resah itu telah bersemi,
Indah sekali.
***
[SEDERHANA]
Kau bertanya, "apakah kamu sayang padaku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"
Kau bertanya, "apakah kamu masih bisa memaafkanku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"
Kau bertanya, "apakah kamu masih mau menungguku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"
----------
(Andry Dilindra; Januari - Februari, 2007)