Image hosted by Photobucket.com

















































Profile

"Hanya Pria, yang mencoba menulis di rapuh jari jemarinya"



Links

Tong Sampah
Kamar Gelap
Inspirasi


Arsip


03/01/2004 - 04/01/200404/01/2004 - 05/01/200405/01/2004 - 06/01/200406/01/2004 - 07/01/200407/01/2004 - 08/01/200408/01/2004 - 09/01/200409/01/2004 - 10/01/200411/01/2004 - 12/01/200402/01/2005 - 03/01/200505/01/2005 - 06/01/200506/01/2005 - 07/01/200507/01/2005 - 08/01/200509/01/2005 - 10/01/200502/01/2007 - 03/01/2007

Saturday, February 24, 2007

-= R E B O R N =-
(untuk Cinta yang hilang entah kemana, mudah-mudahan "kamu" baik-baik saja)

----------

[SPESIAL]
Sajak ini khusus kubuat untuk mu,
dengan perhitungan dan takaran kata yang pas.
Agar tak masam di lidah saat kau mengejanya.

***

[AKHIR]
Aku cinta kamu, dan diamdiam cinta itu berbuah air mata,
ranum kau petik di hangat pelukan dan sebuah ucapan perpisahan.

***

[FANA]
Kita fana dalam arloji cuaca,
Di tiktoknya melingkar rindu yang pudar.

***

[MASIH]
masih kutemui sisa perjamuan terakhir di parasmu,
yang berteduh di temaram alis matamu.

***

[LOST]
kita tersesat di hutan kata,
di rimba air mata.

***

[HUJAN]
Mendung ini tak kuasa menampung air mata cuaca,
dalam guratan cakrawala,
yang bernama luka.

***

[KUTERKA CUACA]
curah hujan gelisah,
banjir menghanyutkan banyak kenangan dalam arus yang resah;

Dari hulu,
ke hilir.

Dari awal,
menuju akhir.

***

[HILANG]
Kenangmu resah di ujung percakapan senja,
Pada buihbuih dan gelombang berhamburan rindu yang tak sempat kukemasi.

Sebelum langit semakin menebus sunyi,
Kurekatkan penanggalan usang di ingatan,
Aku hilang dalam aksara yang kau eja.

***

[GERIMIS]
Ti,
Kenapa tibatiba kau bertanya tentang gerimis
yang sempat merambat pelan di genting keramik
sebelum jatuh membentur tanah.

Ti,
Kau lupa, bahwa sebelum gerimis jatuh,
mendung kelabu selalu terbentang di garis matamu, bukan?

***

[INGATKAN]
Sebelum deru kata ini selesai ku pautkan,
Sebelum resahnya hilang di ingatan,
Sebelum senja berangkat pulang,
Mau kah kau ingatkanku,
Bahwa terik matahari masih sama hangatnya dengan yang lalu.

***

[DIANTARA]
kita lalu berpisah,
diantara warna bunga,
diantara banyak aksara.

Kita lalu berpisah,
diantara goresan senja
diantara rindu yang merekah.

***

[STASIUN]
Kau kunanti di sudut peron tujuh,
Katamu semalam lewat sebuah pesan singkat.

Aku bergegas menembus gaduh suara gerbong,
Berharap kau berada diujung pintu melambai rindu.

Siasia,
Aku tak menemukanmu sore itu.

***

[TITIP RINDU]
Aku pergi. Titip rindu. Titip sayang. Titip cinta. Simpan di hatimu. Jaga dan peliharalah. Sebelum langkah kaki ini mejauh. Maukah kau kukecup sekali lagi. Sebagai doa jika saja nanti perjalananku curam dan berliku.

***

[HALO KESUNYIAN]
Selamat siang kesunyian. Lama tak jumpa, kau semakin gemuk saja. Ingatingat tentang penyakit jantungmu. Jangan sampai kau kena serangan jantung. Aku tak ingin ada suara bising sirene dari ambulan seperti tempo hari. Aku ingin kau baikbaik saja. Sebab aku butuh kau saat ini. Aku ingin kembali bertutur manja denganmu lewat percakapan yang cukup panjang, tentu saja percakapannya tentang sebuah keresahan.

***

[SKETSA]
Malam datang, mengarak sepi,
di sudut jalan, redup lampu hijrah ke trotoar,
dekat sebuah kubangan,
yang sore tadi terlindas sebuah sedan mewah berpenumpang wanita setengah baya.

Pejalan kaki lambat menembus sunyi,
berpayung menepis gerimis yang masih jatuh
dalam resah malam yang beringsut padam.

Ada sktesa wajahmu buram diterpa angin
yang melintas pelan di sebuah simpang jalan,
selatan Jakarta.

***

[RINDU]
Masih kusimpan erat sepenggal rindu untukmu,
dalam lisan yang tak pernah lagi kuucapkan,
dalam sebaris kata yang tak selesai kutorehkan,
dalam selimut dan semerbak bunga mimpi yang kian menakutkan.

***

[SAMAR]
Kita sudah sampai,
dalam singgasana keraguan,
yang batasnya samar,
antara cinta dan dusta.

***

[ESOK atau LUSA]
Arakarakan senja padam diujung tatapan,
Bergulir pelan, hening, hilang.

Katamu esok adalah kemarin,
dan lusa adalah hari ini,
yang berulang sama,
tanpa jeda untuk sekedar tanda koma.

***

[KAPAN?]
Ti, kapan pulang?
Aku rindu perdebatan itu,
riuh tawamu merdu ditelingaku.

Ti, kapan pulang?
Telah kupersiapkan perapian,
dalam tungku percakapan.

[KENANGAN]
Kali ini tanpamu. Di sudut tanya diamdiam kumulai percakapan;
pada angin, juga sepi.
Sambil kusaksikan senja pelanpelan terbenam.

***

[(JIKA) NANTI]
begini, jika nanti aku (terlambat) pulang,
jangan kau tanya dari mana,
tapi tolong tanya; "kenapa pulang?"

sebab rindu yang mengantar,
pada sebuah rumah bernama "KAMU".

***

[HANYA SESAAT]
Seperti geremis,
katakata gugur perlahan,
membentur sunyi,
terserap sepi.

***

[REKA ULANG]
di senyummu kureka situasi;

ruangan sunyi beraroma dupa,
meja rias berdebu,
lampu tempel,
sofa cokelat tua,
vas bunga.

Kita, dalam tanda tanya.

***

[REKA ULANG II]
Aku rebah di parasmu; dingin air matamu.
di selaksa megamega telah kureka ulang air matamu,
dalam setiap penanggalan yang tutup usia,
dalam detak jarum jam yang terhenti di angka tiga,
dalam resah dan sebaris tanda tanya.

***

[RAGU]
Mungkin satu kali. Atau beberapa kali. Aku lupa. Jelas, jika lupa aku selalu susah mengingat. Kau jangan tertawa. Iya, mungkin beberapa kali aku jatuh cinta. Dan Ti, mau kah kau kembali meyakinkanku bahwa hanya padamu sajalah aku benarbenar jatuh cinta.

***

[SABUK] - (inspired by someone"s blog)
Kamu ingat tentang ikat pinggang yang kau berikan padaku dulu?
Masih lekat melingkar di pinggangku hingga saat ini.
Ada beberapa bagiannya yang terkelupas, bahkan mulai terlihat usang.
Aku tak mau menggantinya.
Biarlah ia melingkar disana; tepat antara jantung dan kelaminku.
Biarlah ia tetap setia menjaga keduanya.

***

[COBA PAHAMI]
Ti, bisakah kau mengeja lisanku?

Aku hanya ingin kau pahami,
Bahwa resah itu telah bersemi,
Indah sekali.

***

[SEDERHANA]
Kau bertanya, "apakah kamu sayang padaku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"

Kau bertanya, "apakah kamu masih bisa memaafkanku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"

Kau bertanya, "apakah kamu masih mau menungguku?"
Aku bilang, "aku cinta kamu"

----------

(Andry Dilindra; Januari - Februari, 2007)

andry felt the summer's freedom at 10:49 PM


{-+-}

Sunday, September 11, 2005

Sajaksajak untuk Sendja [Bagian Akhir]


Pernah suatu hari saya bersitatap dengan seorang perempuan, atas binar di retina matanya. Benarkah syahdu itu dapat menghancurkan mendung kelam yg bergantung di parasnya? dia terlalu cantik untuk dilupakan. Kebaikan hati, pengorbanan dan sikap tegasnya adalah isyarat bagi saya untuk bersikap bijaksana, tanpa benci dan dendam murka. Saya terlalu rapuh untuk menghadapi getir rasa yg kini menghampiri. Tak ada alasan untuk menjadikannya musuh, karena perempuan itu terlalu indah untuk dikenang...


***


di renung malam, kutemui sisa asa yg tak kunjung mengering.


Di sudut kamar, bersama derit pintu bertaburan katakata yg tak sempat kujalin untukmu.


Nanti, saat musim penghujan tiba, kita sudah menjadi lalu.


Kamu dengannya mesra di lisan doa yg kubisikan.


Semoga kau bahagia...


***


nisan kita tertancap diantara bongkah batu hitam. Angin tersandung digundukan tanah yg basah. Diantara hening dan jejak air mata pelayat terdengar tanya "setengah tahun 1 bulan yg siasiakah?"

***


Aku ingin berhenti menuliskan kata menjadi kalimat lalu kau tersenyum membacanya. Sebab sudah tak ada kamu, inspirasi terindah yg pernah menggetarkan jarijemariku tuk memintal kata menjadikannya kalimat cinta. Musim ini musim kita. Gugur daun tertiup angin isyarat kita. Katakata sudah terasa mati untuk bisa kau eja. Titip kata "sayang" jika masih ada ruang di belahan hatimu.


***


sebuah janji kecil di simpang jalan menurun selatan jakarta pernah terlontar di bibir mungilmu "kita bikin nama yuk buat anak mu, ku. Nanti, jika kita tak ditakdirkan satu" aku tersnyum di tikungan berikutnya. Mengangguk kecil. Nanti, putri cantikku kan kunamai "Aurelia Aurora Tiara" yang berarti putri cantik bermahkota tiga secantik sinar terang di utara.


***


jika ada sedikit waktu, tersenyumlah. seperti aku. Disela tiktok waktu di bundar jam dinding bercat krem kuhamburkan senyum dan tawa, dikenang kita, kaulah pelipur lara terbaik yg pernah ada.


***


andry felt the summer's freedom at 5:08 PM


{-+-}

sendja di lebur warna kupukupu


Kamu, aku, siang, rumput, terik. Memandang jalurjalur kawat yg menembus awan, langit dan jerit angin. Kau merajut warna kupukupu yg melintas terbang setelah berlalu di tangkai kembang sepatu. Aku mulai terkantukkantuk dan sadar harus segera terjaga sebelum hari semakin tua usianya. Kau masih merajut warna kupukupu dan memintalnya menjadi sebuah syal lalu di hening tatapmu kau kalungkan padaku. Lama kau diam hingga suara detak jantungmu kudengar lembut di telingaku. Sebelum langit terburai warna gelap, aku mencoba mengeja cakrawala, terbata lirih ku bisikan cinta pada mu. Sendja ini teramat indah untuk dilupakan...


andry felt the summer's freedom at 4:53 PM


{-+-}

Tuesday, July 12, 2005

8 Menit 15 detik


Adinda tercinta, telah ku temui kau di sudut malam. Kau terlihat anggun di balut warna temaram; kerudung sepi telah kau tanggalkan. Benarkah yang kurasa; bahwa cinta telah merasuk ke dalam jiwa. Kau terlihat berbeda dalam kalimat mata.


Jika diizinkan untuk bertanya, ingin rasanya ku ucap sebuah kata. Namun rasa telah merajukku untuk tidak mengucapkannya. Di kecup bibirmu terlintas kata berpisah. Kau seperti ragu untuk ku jamah, menjauh saat kudekap. Ada apa dengan mu, sendja.


Teriring doa, semoga kau bahagia atas pilihanmu; aku dan kondisiku. Aku dan segala kerapuhanku...

andry felt the summer's freedom at 10:27 PM


{-+-}

Wednesday, June 22, 2005

Napak Tilas


Baru setengah hari kita berjalan.
Matahari masih segar menatap bumi.
Tapi, perjalanan ini harus terhenti, sebab
aku tak kuasa menahan air mata, atas kita yg tak juga bisa saling memahami.
Kupungut butir-butir air mata, juga jejak langkah.
Semoga tidak ada lagi duka di perjalanan kita.
Aku ke timur, kau bergegas ke barat.
Di Utara nanti kita bertemu, suatu saat nanti, saat cakrawala tak lagi ada.

andry felt the summer's freedom at 7:08 PM


{-+-}

Sunday, June 12, 2005

The tears of Regret!


Pria itu diam-diam telah menangis dalam tidurnya. Perempuan terkasih, dalam balutan luka yg pernah dicintainya telah beranjak pergi; entah ke barat atau ke timur. Entah ke selatan atau ke utara. Dan untuk kesekian kalinya, tangisan itu berubah menjadi nyata, hadir dalam kesehariannya, antara hembus nafas dan detak jantungnya...


andry felt the summer's freedom at 10:16 PM


{-+-}

Stasiun


Akhirnya, aku tiba pada sebuah stasiun pemberhentian terakhir, tempat para pengembara gelisah, menunggu waktu yg tak pernah pasti mengirimkan berita duka atau bahagia.


Di stasiun, gelisah selalu saja sembunyikan tawa dan air mata. Hanya ada ekspresi datar dan tatap mata nanar.


Telah ku dengar samar-samar ucap selamat tinggal dari bibirmu yg kusam warnanya. Disini, di stasiun, tempat para gelisah mengucap salam "selamat datang" atau "selamat jalan!"


andry felt the summer's freedom at 9:54 PM


{-+-}

Saturday, May 07, 2005

Sajak-Sajak untuk SENDJA


Pagi Bersamamu


ku saksikan gerimis membentur genting di teras rumah kita yg pekarangannya belum setengahnya kusemai tanaman, bunga-bunga dan rumput hijau.


Kau aduk kopi dan gula manis di cangkirmu yg ku seduhkan untukmu saat adzan subuh masih senyap di pekat warna cakrawala tempat kugantung cinta atas nama kita.


ku pungut sejumlah kata-kata dan paragraf yang berhamburan di kolom-kolom surat kabar pagi; diantara asbak dan kepulan asap di bibir hitamku.


kau teguk kopi yg sebentar lagi mengeras dan menjelma senyum. "selamat pagi sayang" kata mu-ku di meja makan kecil dekat dapur pagi itu...


---------------------


Isyarat


telah diisyaratkan malam dengan sebentuk lengkung pekat gelap; kita rebah di dekapnya. Malam selalu saja gelap; hadirmu telah melunturkan warna hitamnya, menjelma cahaya yg sayup-sayup terang dan bersinar. Rembulan diam-diam jatuh hati padamu.


---------------------


Demi Masa


masa yg telah diatur berotasi pada tempatnya; air menguap menjadi awan resah yg kemudian gugur menjadi gerimis yang lalu jatuh dan setubuhi tanah yg kemudian akar menyerapnya agar tanaman menghijau lalu menjelma bunga yg mekar lalu gugur agar kamu tahu bahwa masa memang berotasi pada tempatnya dan kita berada dalam silsilahnya; air yg jatuh di sudut matamu kemudian menjelma senyum rekah di bibirmu agar sinarmatmu berbinar lalu detak jantungku berguncang kemudian lisan basah berucap agar tangan ini mendekap lalu setubuh menjelma satu agar kau tahu bahwa masa telah mengatur kita dalam lingkarannya.


----------------------


Kenang


aku dikenang tiap baris kata ditiap paragraf di sebuah catatan dalam diary bersampul warna ungu kesukaanmu. resapi perlahan tiap kosa-kata yg telah rapi kuciptakan. huruf-huruf vokal saling berlompatan diantara konsonan. ada mu diingatan ku yg kutulis ulang di deret paragaraf yg mereka maknai sebagai sajak.


-----------------------


Mata air Mata


Di bulir air mata mu telah ku titipkan mata air ku.


andry felt the summer's freedom at 12:31 PM


{-+-}

Monday, February 07, 2005

[Pelukis Malam]
Aku melukis wajahmu di lembar malam yg kusut warnanya.
Dengan tinta sepi dan debu yg berkelar menantang angin.
Ku gores sepi pada alis dan merah pipimu.


andry felt the summer's freedom at 2:59 PM


{-+-}